Dahulu kala di daerah Teluk Pandak terdapatlah sebuah padi sebesar buah kelapa. Masyarakat setempat tidak pernah tahu dari mana asalnya. Padi itu ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar rumahnya. Padi yang ditemukan itu bukanlah padi lengkap dengan batangnya, namun hanya sebuah biji padi sebesar kelapa lengkap dengan cangkangnya. Penduduk Teluk Pandak percaya bahwa padi itu merupakan titisan dari Dewi Sri. Mereka seperti mendapatkan berkah dengan turunnya padi itu ke tempat mereka.
Saat musim tanam tiba, masyarakat membawa padi sebesar kelapa tersebut ke sawah yang akan ditanami. Setelah padi di tanam, masyarakat berkumpul untuk melakukan doa bersama agar padi yang ditanam mendapat berkah dari Tuhan. Sekelompok muda-mudi membawakan tari Dewi Sri. Tarian itu diiringi oleh lagu yang bersyair doa dan pujian kepada Tuhan. Lagu itu mereka namakan dengan Nandung. Kulit padi mereka pukul-pukul sebagai gendang pengiring tarian Dewi Sri.
Waktu terus berjalan. Musim panen pun tiba. Masyarakat kembali berkumpul dan bersama-sama melakukan panen. Panen pertama ini mereka lakukan hanya untuk sebagian kecil padi yang akan digunakan untuk acara makan bersama. Saat akan menuai padi, mereka menimang-nimang padi titisan Dewi Sri itu sambil melantunkan puji-pujian kepada Tuhan atas keberhasilan tanaman mereka. Padi yang sudah dituai kemudian diirik dengan kaki. Setelah itu padi dijemur. Setelah menjadi beras, padi itu dimasak dan dipersiapkanlah sebuah acara makan bersama. Dalam acara itu padi sebesar kelapa itu kembali dibawa. Sebelum makan mereka melagukan syair-syair yang intinya adalah syukuran, doa mohon keberkahan, dan keselamatan kepada Tuhan. Acara makan pun selesai. Keesokan harinya masyarakat secara bersama-sama memanen seluruh padi.
Setelah seluruh padi selesai dipanen, tumbuhlah anak padi dari bekas batang padi yang tinggal. ini lebih kecil. Mereka menamakan padi yang lebih kecil itu dengan Salibu. Padi itu ukurannya lebih kecil dari ukuran padi biasa. Salibu itu kemudian di panen. Setelah dipisahkan dari cangkangnya, Salibu kemudian digonseng dan ditumbuk hingga berbentuk emping. Proses menggonseng hingga menumbuk Salibu dilakukan oleh muda-mudi dari sore hingga malam hari. Selama proses itu tidak jarang ada muda-mudi yang akhirnya berjodoh. Emping dari Salibu kemudian dimakan bersama-sama dalam acara pernikahan muda-mudi yang berjodoh itu.
Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan
12.01.2008
11.18.2008
Legenda Batu Kerbau
Pada suatu waktu, Datuk Senaro Putih dari Tanah Datar Alam Minangkabau akan melakukan ekspedisi. Rute Ekspedisi sang datuk adalah menyisir Alam Sakti Kerinci, tembus ke Air Liki Hulu Batang Tabir. Kemudian memudik Batang Pelepat dan berlabuh di Gunung Rantau Bayur. Tanah cocok, udara serasi, maka ditempat inilah Datuk Senaro Putih dan rombongan berdiam, berkebun, beternak, dan sebagainya. Berdaulatlah Datuk Senaro Putih sebagai Penghulu Negeri dan namanya terngiang sampai ke raja Jambi di Tanah Pilih.
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun dan tahun berganti masa. Suatu ketika istana gempar, ternak kesayangan raja, Napuh Bertaduk Emas hilang tak tentu rimbanya. Hulubalang, panglima, dan pemburu tangguh tak mampu menisik rimba menguak semak mencari Napuh Bertanduk Emas itu. Ahli nujum negeri meramal pencarian harus mengilir sungai.
Tak ada pilihan. Datuk sendiri yang harus turun tangan. Sang permaisuri Putri Jumilah juga ikut serta. Sebagai bekal di jalan, rombongan mengilir dengan membawa sembilan puluh sembilan ekor kerbau. Dalam suatu tempat perjalanan, rakit Datuk Senaro Putih terpaksa meliuk dihadang batu yang menonjol kepermukaan. Bila dalam masa rekreasi, meungkin liukan perahu disela bebatuan akan menambah romantis. Bak arung jeram yang hiruk pikuk dengan jeritan tantangan dan deburan air, maka Datu Senaro Putih juga melengking menggeledek suaranya. Batu-batu yang menonjol itu seolah menghadang perjalanannya. Dasar sedang emosional kehilangan Napuh Bertanduk Emas, Datuk Senaro Putih melambung dari atas rakit dan seperti elang menyambar seluang kakinya menjejak tujuh batu melesak ke dasar sungai. Memburai air mengikuti patahan kerak bumi. Jadilah di sana air terjun bertangga tujuh, kini disebut air terjun Tujuh Takak.
Setelah Putri Jumilah melerai amarah Datuk Senaro Putih, pelayaran dilanjutkan. Pada suatu lubuk, subang sang istri terjatuh dan tenggelam. Lubuk itu bernama Lubuk Subang. Di tempat lain pula, seekor kucing milik datuk tercebur jatuh dan hilang ditelan pusaran. Lubuk itu digelari Lubuk Kucing.
Rintangan lain masih menghadang. Tak tahu apa sebabnya kerbau-kerbau Datuk Senaro Putih lintang pukang serabutan terju ke lubuk. Pengirin datuk kalang kabut menarik kerbau-kerbau yang tak mau naik kembali. Sekuat menarik ke atas, sekuat itu pula kerbau tersedot ke dalam, ibarat batu beratnya. Puncak sumpah Datuk Senaro Putih menghujat kerbau seperti batu-batu. Bak sesakti Pahit Lidah atau mungkin saat itu melintas si Pahit Lidah, maka jadilah kerbau-kerbau itu menjadi batu. Tempat dimana kerbau terjatuh dan menjadi batu disebutlah sebagai Lubuk Batu Kerbau.
Untuk meringankan perjalanan, sebagian pengiring Datuk Senaro Putih berdiam di sekitar Lubuk Perkembangan. Kemudian jadilah sekitar daerah itu pusat pemukiman dan cikal bakal desa Batu Kerbau.
Setelah sekian lama mencari Napuh Bertanduk Emas, hasilnya tetap nihil. Sampai pada suatu ketika tersiar kabar bahwa ternyata Napuh Bertanduk Emas ada pada raja Jambi. Saat kerbau itu diminta, raja Jambi tidak mau memberikan. Sebagai gantinya raja Jambi memberi sebidang tanah di hilir berbatasan dengan Rio Maliko, Lubuk Tekalak. Di mudik berbatasan dengan Batu Kijang Alam Kerinci.
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun dan tahun berganti masa. Suatu ketika istana gempar, ternak kesayangan raja, Napuh Bertaduk Emas hilang tak tentu rimbanya. Hulubalang, panglima, dan pemburu tangguh tak mampu menisik rimba menguak semak mencari Napuh Bertanduk Emas itu. Ahli nujum negeri meramal pencarian harus mengilir sungai.
Tak ada pilihan. Datuk sendiri yang harus turun tangan. Sang permaisuri Putri Jumilah juga ikut serta. Sebagai bekal di jalan, rombongan mengilir dengan membawa sembilan puluh sembilan ekor kerbau. Dalam suatu tempat perjalanan, rakit Datuk Senaro Putih terpaksa meliuk dihadang batu yang menonjol kepermukaan. Bila dalam masa rekreasi, meungkin liukan perahu disela bebatuan akan menambah romantis. Bak arung jeram yang hiruk pikuk dengan jeritan tantangan dan deburan air, maka Datu Senaro Putih juga melengking menggeledek suaranya. Batu-batu yang menonjol itu seolah menghadang perjalanannya. Dasar sedang emosional kehilangan Napuh Bertanduk Emas, Datuk Senaro Putih melambung dari atas rakit dan seperti elang menyambar seluang kakinya menjejak tujuh batu melesak ke dasar sungai. Memburai air mengikuti patahan kerak bumi. Jadilah di sana air terjun bertangga tujuh, kini disebut air terjun Tujuh Takak.
Setelah Putri Jumilah melerai amarah Datuk Senaro Putih, pelayaran dilanjutkan. Pada suatu lubuk, subang sang istri terjatuh dan tenggelam. Lubuk itu bernama Lubuk Subang. Di tempat lain pula, seekor kucing milik datuk tercebur jatuh dan hilang ditelan pusaran. Lubuk itu digelari Lubuk Kucing.
Rintangan lain masih menghadang. Tak tahu apa sebabnya kerbau-kerbau Datuk Senaro Putih lintang pukang serabutan terju ke lubuk. Pengirin datuk kalang kabut menarik kerbau-kerbau yang tak mau naik kembali. Sekuat menarik ke atas, sekuat itu pula kerbau tersedot ke dalam, ibarat batu beratnya. Puncak sumpah Datuk Senaro Putih menghujat kerbau seperti batu-batu. Bak sesakti Pahit Lidah atau mungkin saat itu melintas si Pahit Lidah, maka jadilah kerbau-kerbau itu menjadi batu. Tempat dimana kerbau terjatuh dan menjadi batu disebutlah sebagai Lubuk Batu Kerbau.
Untuk meringankan perjalanan, sebagian pengiring Datuk Senaro Putih berdiam di sekitar Lubuk Perkembangan. Kemudian jadilah sekitar daerah itu pusat pemukiman dan cikal bakal desa Batu Kerbau.
Setelah sekian lama mencari Napuh Bertanduk Emas, hasilnya tetap nihil. Sampai pada suatu ketika tersiar kabar bahwa ternyata Napuh Bertanduk Emas ada pada raja Jambi. Saat kerbau itu diminta, raja Jambi tidak mau memberikan. Sebagai gantinya raja Jambi memberi sebidang tanah di hilir berbatasan dengan Rio Maliko, Lubuk Tekalak. Di mudik berbatasan dengan Batu Kijang Alam Kerinci.
GADIS BERAMBUT PANJANG
Gadis berambut panjang adalah cerita yang berasal dari Desa Air Liki, Dusun Renah Kepayang, Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Merangin. Cerita ini juga sudah berkembang di daerah lain di Kabupaten Merangin. Bukti fisik berupa rambut panjang tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Rambut ini disimpan dan dirawat oleh Rosdiana, keturunan ke sembilan dari pemilik asli rambut panjang tersebut. Rambut itu sendiri sendiri memiliki panjang ±2.5 meter. Rambut panjang tersebut berbentuk jalinan dan besarnya ± dua jari orang dewasa. Pada bagian ujung rambut tersebut terbentuk sebuah rongga. Menurut ahli waris, rongga tersebut merupakan tempat bersarangnya seekor lipan putih penjaga Si Kusuk. Keunikan lain dari rambut tersebut ialah tidak diketahuinya bagian awal dan akhir jalinan rambut tersebut. Namun, bagian pangkal dan ujung rambut masih dapat diketahui. Bagi keturunan Si Kusuk, rambut tersebut juga dinamakan dengan Sarang Tampuo.
Pemilik rambut panjang tersebut bernama Si Kusuk. Ia berasal dari daerah Muaro Lolo, Kabupaten Kerinci. Ia adalah seorang perempuan yang unik. Selain berciri fisik seperti laki-laki, yakni bertubuh tinggi besar, Si Kusuk hanya mempunyai satu buah payudara yang terletak di bagian tengah dadanya. Rambut panjang Si Kusuk hanya tumbuh di bagian ubun-ubunnya. Sementara pada bagian kepala yang lain hanya ditumbuhi oleh rambut layaknya pada manusia biasa. Konon, rambut itulah sumber kesaktiannya. Rambut yang panjang tersebut digulung dan dikonde. Untuk penguncinya, tusuk konde, ia menggunakan sebuah pisau. Si Kusuk berangkat dari Muaro Lolo dengan membawa enam orang pengawal. Keenam pengawalnya tidak mengetahui bahwa Si Kusuk sebenarnya adalah seorang perempuan. Sebaliknya, mereka menyangka bahwa tuan mereka adalah seorang laki-laki. Sesampainya di Desa Air Liki, Si Kusuk memutuskan untuk berdiam di sana.
Pada malam harinya, Si Kusuk mengadakan pertemuan dengan keenam pengawalnya. Ia ingin mengetahu tingkatan usia mereka. Setelah diketahui, akhirnya Si Kusuk membeberkan jati dirinya yang sebenarnya. Setelah itu, ia menyampaikan niatnya untuk menikahi pengawalnya yang berusia paling tua. Dan mereka pun menikah.
Pada malam setelah pernikahan mereka sudah tidur bersama dalam satu kamar. Akan tetapi, pagi harinya diketahui ternyata suami Si Kusuk sudah meninggal dunia. Setelah dikuburkan, Si Kusuk menikah lagi dengan pengawalnya yang tersisa yang usianya paling tua di antara mereka. Akan tetapi, kejadian serupa suami yang pertama terjadi lagi. Suami ke dua Si Kusuk ditemukan meninggal pada pagi setelah hari pernikahan. Hal itu terus berulang hingga lima dari enam orang pengawal Si Kusuk telah meninggal setelah dinikahinya.
Sampailah akhirnya giliran pengawalnya yang terakhir. Akhirnya mereka pun menikah. Pengawal Si Kusuk yang terakhir ini sudah menyimpan kecurigaan tentang peristiwa kematian kelima kawan-kawannya yang sebelumnya dinikahi oleh Si Kusuk.
Pada malam hari setelah menikah, ia tidak langsung masuk ke kamar. Ia pura-pura bekerja menganyam, membuat lukah dari rotan. Ketika Si Kusuk sudah tidur, ia pun menuju kamar. Sesampai di dalam kamar, ia melihat ada seekor lipan putih yang menjalar di badan Si Kusuk. Ia pun segera mengambil kayu untuk membunuh lipan tersebut. Namun, sesaat sebelum dipukul Si Kusuk bangun dan langsung melarangnya membunuh lipan tersebut. Sebagai gantinya, Si Kusuk memberikan obat penawar apabila digigit oleh lipan tersebut. Atas permintaan Si Kusuk, suaminya tidak jadi membunuh lipan tersebut. Akhirnya, mereka pun berhasil memperoleh keturunan. Hingga suatu saat Si Kusuk merasa bahwa waktunya di dunia ini sudah berakhir, ia pun mengumpulkan anggota keluarganya dan menjelaskan perihal tersebut. Sebelum meninggal, ia memotong sendiri rambut yang panjang tersebut karena memang hanya dia yang bisa memotong rambut tersebut. Setelah rambut itu dipotong barulah ia meninggal dunia.
Setelah Si Kusuk meninggal, rambut sekaligus pisau yang digunakan sebagai penguncinya disimpan oleh keluarganya di dalam sebuah kotak dan diletakkan di bubungan bagian atas rumah. Setiap lebaran Idulfitri, keluarga Si Kusuk membersihkannya dengan cara dilimaukan, yaitu mencucinya dengan menggunakan beberapa jenis kembang yang dicampur dengan jeruk nipis.
Ada beberapa kejadian unik yang dialami oleh keturunan Si Kusuk sehubungan dengan rambut tersebut. Di dekat rumah mereka ada pohon durian yang hampir jatuh. Melihat kemiringannya, apabila pohon tersebut jatuh niscaya menimpa rumah mereka. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengeluarkan seluruh isi rumah agar tidak hancur tertipa runtuhan pohohn. Namun, rambut panjang tetap ditinggalkan di rumah tersebut. Alasan mereka meninggalkan rambut tersebut adalah sebagai sebuah pengujian apakah rambut tersebut juga memiliki kesaktian meskipun pemiliknya sudah meninggal. Ternyata memang muncul sebuah keanehan, pohon durian yang semula dipastikan bakal menimpa rumah tersebut ternyata jatuhnya tidak mengenai rumah tersebut. Keanehan lain dari rambut tersebut adalah ketika rambut tersebut dipamerkan dalam ajang pameran di Kota Jambi. Ternyata kakak Pak Said, seorang keturunan Si Kusuk, orang yang membawa rambut tersebut, jatuh sakit dan akhirnya meninggal dengan penyakit yang tidak diketahui. Menurut Pak Said, korban meninggal dengan kondisi seluruh tubuh membengkak. Sementara itu, orang yang satu lagi mengalami kelainan jiwa, namun akhirnya berhasil diobati oleh paranormal.paranormal tersebut mengatakan bahwa penyebab keadaan orang tersebut adalah akibat membawa untuk memamerkan rambut tersebut tanpa disetujui secara ikhlas oleh seluruh keturunan Si Kusuk.
Pisau yang digunakan sebagai pasak rambut panjang itu juga memiliki keanehan. Pernah suatu kali pisau tersebut dijual oleh salah seorang anggota keluarga. Namun, tidak berapa lama pisau tersebut sudah ditemukan kembali di dalam peti tempat rambut panjang itu disimpan. Keanehan lain adalah pada saat seorang lagi keturunan Si Kusuk tertarik untuk memakai pisau tersebut. Maka ia membuatkan sarung untuk pisau tersebut lengkap dengan kopelnya untuk dililitkan di pinggang. Namun, tidak berapa lama setelah pisau itu dibawa, bagian pinggang orang tersebut terkena penyakit semacam koreng yang menyebabkan ia meninggal dunia. Keanehan ketiga yang mereka alami sehubungan dengan pisau tersebut adalah saat Pak Said mengantarkan kakaknya menemui penghulu kampung. Kakaknya tersebut sedang berada dalam masalah karena telah melarikan anak gadis orang untuk diajak menikah sehingga keluarga dan kerabat gadis tersebut berniat mencari dan mencelakakan kakaknya. Namun, Pak Said memberanikan diri membantu kakaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebelum berangkat ia tidak lupa membawa pisau tersebut. Selama diperjalanan, ternyata mereka tidak berhasil ditemukan oleh orang yang mencari kakaknya dan meskipun jalan yang mereka lalui banyak terdapat serangga, namun mereka tidak digigit oleh seekor serangga pun.
Rambut ini disimpan dan dirawat oleh Rosdiana, keturunan ke sembilan dari pemilik asli rambut panjang tersebut. Rambut itu sendiri sendiri memiliki panjang ±2.5 meter. Rambut panjang tersebut berbentuk jalinan dan besarnya ± dua jari orang dewasa. Pada bagian ujung rambut tersebut terbentuk sebuah rongga. Menurut ahli waris, rongga tersebut merupakan tempat bersarangnya seekor lipan putih penjaga Si Kusuk. Keunikan lain dari rambut tersebut ialah tidak diketahuinya bagian awal dan akhir jalinan rambut tersebut. Namun, bagian pangkal dan ujung rambut masih dapat diketahui. Bagi keturunan Si Kusuk, rambut tersebut juga dinamakan dengan Sarang Tampuo.
Pemilik rambut panjang tersebut bernama Si Kusuk. Ia berasal dari daerah Muaro Lolo, Kabupaten Kerinci. Ia adalah seorang perempuan yang unik. Selain berciri fisik seperti laki-laki, yakni bertubuh tinggi besar, Si Kusuk hanya mempunyai satu buah payudara yang terletak di bagian tengah dadanya. Rambut panjang Si Kusuk hanya tumbuh di bagian ubun-ubunnya. Sementara pada bagian kepala yang lain hanya ditumbuhi oleh rambut layaknya pada manusia biasa. Konon, rambut itulah sumber kesaktiannya. Rambut yang panjang tersebut digulung dan dikonde. Untuk penguncinya, tusuk konde, ia menggunakan sebuah pisau. Si Kusuk berangkat dari Muaro Lolo dengan membawa enam orang pengawal. Keenam pengawalnya tidak mengetahui bahwa Si Kusuk sebenarnya adalah seorang perempuan. Sebaliknya, mereka menyangka bahwa tuan mereka adalah seorang laki-laki. Sesampainya di Desa Air Liki, Si Kusuk memutuskan untuk berdiam di sana.
Pada malam harinya, Si Kusuk mengadakan pertemuan dengan keenam pengawalnya. Ia ingin mengetahu tingkatan usia mereka. Setelah diketahui, akhirnya Si Kusuk membeberkan jati dirinya yang sebenarnya. Setelah itu, ia menyampaikan niatnya untuk menikahi pengawalnya yang berusia paling tua. Dan mereka pun menikah.
Pada malam setelah pernikahan mereka sudah tidur bersama dalam satu kamar. Akan tetapi, pagi harinya diketahui ternyata suami Si Kusuk sudah meninggal dunia. Setelah dikuburkan, Si Kusuk menikah lagi dengan pengawalnya yang tersisa yang usianya paling tua di antara mereka. Akan tetapi, kejadian serupa suami yang pertama terjadi lagi. Suami ke dua Si Kusuk ditemukan meninggal pada pagi setelah hari pernikahan. Hal itu terus berulang hingga lima dari enam orang pengawal Si Kusuk telah meninggal setelah dinikahinya.
Sampailah akhirnya giliran pengawalnya yang terakhir. Akhirnya mereka pun menikah. Pengawal Si Kusuk yang terakhir ini sudah menyimpan kecurigaan tentang peristiwa kematian kelima kawan-kawannya yang sebelumnya dinikahi oleh Si Kusuk.
Pada malam hari setelah menikah, ia tidak langsung masuk ke kamar. Ia pura-pura bekerja menganyam, membuat lukah dari rotan. Ketika Si Kusuk sudah tidur, ia pun menuju kamar. Sesampai di dalam kamar, ia melihat ada seekor lipan putih yang menjalar di badan Si Kusuk. Ia pun segera mengambil kayu untuk membunuh lipan tersebut. Namun, sesaat sebelum dipukul Si Kusuk bangun dan langsung melarangnya membunuh lipan tersebut. Sebagai gantinya, Si Kusuk memberikan obat penawar apabila digigit oleh lipan tersebut. Atas permintaan Si Kusuk, suaminya tidak jadi membunuh lipan tersebut. Akhirnya, mereka pun berhasil memperoleh keturunan. Hingga suatu saat Si Kusuk merasa bahwa waktunya di dunia ini sudah berakhir, ia pun mengumpulkan anggota keluarganya dan menjelaskan perihal tersebut. Sebelum meninggal, ia memotong sendiri rambut yang panjang tersebut karena memang hanya dia yang bisa memotong rambut tersebut. Setelah rambut itu dipotong barulah ia meninggal dunia.
Setelah Si Kusuk meninggal, rambut sekaligus pisau yang digunakan sebagai penguncinya disimpan oleh keluarganya di dalam sebuah kotak dan diletakkan di bubungan bagian atas rumah. Setiap lebaran Idulfitri, keluarga Si Kusuk membersihkannya dengan cara dilimaukan, yaitu mencucinya dengan menggunakan beberapa jenis kembang yang dicampur dengan jeruk nipis.
Ada beberapa kejadian unik yang dialami oleh keturunan Si Kusuk sehubungan dengan rambut tersebut. Di dekat rumah mereka ada pohon durian yang hampir jatuh. Melihat kemiringannya, apabila pohon tersebut jatuh niscaya menimpa rumah mereka. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengeluarkan seluruh isi rumah agar tidak hancur tertipa runtuhan pohohn. Namun, rambut panjang tetap ditinggalkan di rumah tersebut. Alasan mereka meninggalkan rambut tersebut adalah sebagai sebuah pengujian apakah rambut tersebut juga memiliki kesaktian meskipun pemiliknya sudah meninggal. Ternyata memang muncul sebuah keanehan, pohon durian yang semula dipastikan bakal menimpa rumah tersebut ternyata jatuhnya tidak mengenai rumah tersebut. Keanehan lain dari rambut tersebut adalah ketika rambut tersebut dipamerkan dalam ajang pameran di Kota Jambi. Ternyata kakak Pak Said, seorang keturunan Si Kusuk, orang yang membawa rambut tersebut, jatuh sakit dan akhirnya meninggal dengan penyakit yang tidak diketahui. Menurut Pak Said, korban meninggal dengan kondisi seluruh tubuh membengkak. Sementara itu, orang yang satu lagi mengalami kelainan jiwa, namun akhirnya berhasil diobati oleh paranormal.paranormal tersebut mengatakan bahwa penyebab keadaan orang tersebut adalah akibat membawa untuk memamerkan rambut tersebut tanpa disetujui secara ikhlas oleh seluruh keturunan Si Kusuk.
Pisau yang digunakan sebagai pasak rambut panjang itu juga memiliki keanehan. Pernah suatu kali pisau tersebut dijual oleh salah seorang anggota keluarga. Namun, tidak berapa lama pisau tersebut sudah ditemukan kembali di dalam peti tempat rambut panjang itu disimpan. Keanehan lain adalah pada saat seorang lagi keturunan Si Kusuk tertarik untuk memakai pisau tersebut. Maka ia membuatkan sarung untuk pisau tersebut lengkap dengan kopelnya untuk dililitkan di pinggang. Namun, tidak berapa lama setelah pisau itu dibawa, bagian pinggang orang tersebut terkena penyakit semacam koreng yang menyebabkan ia meninggal dunia. Keanehan ketiga yang mereka alami sehubungan dengan pisau tersebut adalah saat Pak Said mengantarkan kakaknya menemui penghulu kampung. Kakaknya tersebut sedang berada dalam masalah karena telah melarikan anak gadis orang untuk diajak menikah sehingga keluarga dan kerabat gadis tersebut berniat mencari dan mencelakakan kakaknya. Namun, Pak Said memberanikan diri membantu kakaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebelum berangkat ia tidak lupa membawa pisau tersebut. Selama diperjalanan, ternyata mereka tidak berhasil ditemukan oleh orang yang mencari kakaknya dan meskipun jalan yang mereka lalui banyak terdapat serangga, namun mereka tidak digigit oleh seekor serangga pun.
LEGENDA LUBUK BUJANG GADIS
Dahulu kala hiduplah seorang bujang yang digelari oleh masyarakat dengan Bujang Tuo. Gelar itu dilekatkan kepadanya karena usianya yang sudah tidak muda lagi, namun ia tak kunjung menikah. bujang Tuo cukup gagah, apalagi ia memiliki tubuh yang kekar. Bujang Tuo tinggal di desa Senamat Ulu. Desa itu terletak di hulu batang Senamat. Penduduk desa Senamat Ulu tidak terlalu banyak. Mereka hidup dengan mencari ikan di Batang Senamat dan sebagian ada yang bercocok tanam.
Orang tua Bujang Tuo sebenarnya sudah lama menyinggung soal pernikahan kepadanya, namun ia tidak begitu menanggapinya. Bagi Bujang Tuo jodoh ada di tangan Sang Pencipta. Bujang Tuo adalah anak yang suka bekerja. Hal ini yang membuatnya tidak begitu terbebani dengan keinginan untuk menikah.
Untuk kesekian kalinya bertanyalah ibu Bujang Tuo kepadanya, "Kapan lagi kau nak menikah, Bujang, sudah rindu rasanya kami nak menimang cucu."
"Sudahlah, Mak, biar Tuhan yang berkehendak. Aku pun hendak, namun tak mungkin bila tiada rasa," jawab Bujang Tuo.
"Tapi, bagaimana dengan orang kampung. Rasanya sakit telinga Mak mendengar gunjingan mereka."
"Sabarlah, Mak. Aku pun begitu."
Bujang Tuo pamit kepada orang tuanya untuk berjalan-jalan menenangkan pikiran. Iba hati orang tuanya melihat nasib anak satu-satunya itu. Mereka tahu bahwa Bujang Tuo lebih tertekan dengan sindiran penduduk kampung, namun mereka tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat berdoa agar Bujang Tuo segera mendapatkan jodoh dan menikah.
Bujang Tuo pergi ke Batang Senamat. Dilepasnya pautan rakitnya dan ia mulai menyusuri Batang Senamat. Gundah juga hatinya memikirkan persoalan itu. Sebetulnya ia juga ingin untuk menikah, namun ia tidak mau menikah dengan gadis yang tidak disukainya. Selama ini Batang Senamat merupakan tempat pelarian keluh kesahnya. Hamparan hutan dan bukit di kiri kanan Batang Senamat seolah memberikan ketenangan kepadanya. Ia sering berlayar jauh untuk mengobati luka hatinya. Saat ini kata hatinya ingin pergi ke desa Senamat yang terletak di hilir Batang Senamat.
Dalam perjalanannya, Bujang Tuo sering bersenandung untuk menghibur diri. Ia begitu mengagumi kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam yang begitu indah, namun ia juga sering berkeluh kesah kepada Tuhan mengapa belum juga ada jodoh untuk dirinya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan menyanyi. Suara itu berasal dari bukit di sisi Batang Senamat. Namun suara itu tidak terdengar lagi ketika ia ingin menghentikan rakitnya. Ingin rasanya Bujang Tuo pergi ke sana, namun ia juga takut kalau itu hanya igauannya. Lama ia menunggu suara itu, namun tidak terdengar juga. Akhirnya Bujang Tuo melanjutkan perjalanannya. Namun ia masih memikirkan peristiwa tadi. Ia masih penasaran dengan suara itu.
Keesokan harinya ia kembali melewati tempat itu. Sesampai di sana ia kembali mendengar suara perempuan menyanyi, namun lebih mirip suara tangisan. Ketika Bujang Tuo akan menghentikan rakitnya suara itu kembali hilang. Bujang Tuo semakin penasaran. Namun ia masih belum berani untuk menaiki bukit tempat suara itu berasal. Ia takut kalau suara itu adalah miliki penunggu bukit itu. Bulu kuduknya berdiri dan ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sesampai di rumah Bujang Tuo tak bisa tidur. Ia masih penasaran dengan peristiwa di Batang Senamat itu. Ingin rasanya ia pergi ke bukit itu, namun ia takut kalau itu bukan suara manusia melainkan penghuni bukit itu. Tetapi selama perjalanannya ke desa Senamat, baru hari itu ia mendengar suara perempuan menyanyi. Bujang Tuo semakin penasaran. Setelah lama merenung, akhirnya ia berjanji bila besok masih mendengar suara itu, maka ia akan menaiki bukit itu.
Keesokan harinya ia kembali melewati bukit itu dan ia kembali mendengar suara perempuan menyanyi. Dengan cepat Bujang Tuo menepikan rakitnya dan menaiki bukit mencari sumber suara itu. Suara itu semakin jelas didengarnya. Perlahan Bujang Tuo mengintip dari balik daun-daun siapa gerangan yang sedang menyanyi itu. Ia melihat seorang perempuan sedang menangis tersedu-sedu duduk di atas batu. Ia yakin itu adalah manusia karena tak jauh dari sana ada kebun dan sebuah rumah.
Bujang Tuo mendekati perempuan itu dan mereka pun berkenalan. Akhirnya diketahuilah bahwa perempuan itu bernama Gadis. Ia tinggal dengan kedua orang tuanya. Hanya mereka yang tinggal di atas bukit itu. Usia Gadis sudah tidak muda lagi. Namun selama ini ia belum mau menikah karena masih asik dengan pekerjaan dan kebebasannya. Meskipun orang tuanya sudah berulang kali menanyakan perihal itu kepadanya. Sekarang setelah tidak muda lagi baru muncul keinginannya untuk menikah. itulah yang membuatnya bersedih sehingga sering menangis. Bujang Tuo merasa bahwa jalan hidup Gadis mirip dengan dirinya.
Semenjak saat itu, Bujang Tuo sering berkunjung ke sana. Ia merasa tertarik dengan Gadis, namun ia belum berani untuk mengungkapkannya. Ia masih ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Bujang Tuo juga tidak menceritakan peristiwa itu kepada orang lain termasuk orang tuanya. Ia tak ingin mereka tahu sebelum ia mendapat kepastian akan hubungan mereka. Hingga pada suatu saat Bujang Tuo pun mengutarakan perasaannya kepada Gadis. Akan tetapi, Gadis masih ragu dengan keseriusan Bujang Tuo. Ia takut kalau-kalau Bujang Tuo hanya bermain-main apalagi ia belum begitu mengenal asal-usul Bujang Tuo. Akhirnya Bujang Tuo memberikan kesempatan kepada Gadis untuk memikirkannya beberapa waktu.
Sampailah pada masa yang telah disepakati untuk bertemu. Mereka duduk di tepi lubuk. Bujang Tuo ingin sekali mendengar jawaban Gadis. Di dalam hati ia berdoa agar Gadis berjodoh dengannya.
"Sampaikanlah buah renungmu, Gadis. Ingin aku segera mendengarnya."
"Abang, bimbang aku memutuskannya. Masih ada ragu di hati tentang keseriusan Abang. Namun, jika benar abang bersungguh-sungguh, kelak datanglah sebulan lagi untuk melamarku. Itulah bukti keseriusan abang."
Tanpa pikir panjang Bujang Tuo langsung menyanggupi permintaan Gadis. Ia bahagia dengan jawaban yang diberikan Gadis.
"Baiklah, jika itu pintamu aku menyanggupinya," jawab Bujang Tuo.
"Tapi, aku ingin abang berikrar setia dalam sumpah bahwa abang bersungguh-sungguh. Selama ini baru abang lelaki yang mampu menggerakkan hatiku. Aku tidak ingin semua ini hanya angan belaka. Niat baik sering banyak cobaannya, Bang."
Bujang Tuo terdiam sesaat. Ia mencoba memahami permintaan Gadis. Namun Bujang Tuo bingung seperti apa sumpah yang dapat memberikan keyakinan pada Gadis. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Bujang Tuo bicara juga.
"Baiklah. Untuk kesungguhan kita aku bersumpah akan menjadi buaya di lubuk ini seandainya kita tidak jadi menikah." gadis pun menerima sumpah yang diikrarkan BujangTuo. Ia memilih menjadi buaya di lubuk itu daripada harus menanggung malu karena batal menikah.
Hari berganti. Sebulan telah berlalu semenjak Bujang Tuo mengikrarkan sumpah. Pagi itu Gadis telah berada di tepi lubuk tempat dulu mereka berjanji. Gadis ingin lekas bertemu dengan Bujang Tuo yang akan datang melamarnya sesuai janjinya. Lama ia duduk, namun belum tampak juga olehnya Bujang Tuo. Sampai selepas tengah hari Bujang Tuo masih juga belum datang. Gadis mulai resah kalau-kalau Bujang Tuo tidak akan datang. Jika itu terjadi ia tak sanggup menanggung malu kepada orang tuanya.
Hari sudah mulai sore, namun Bujang Tuo belum juga menampakkan diri. Gadis menangis. Hancur hatinya Bujang Tuo belum juga datang. Dalam kesedihan dan keputusasaan itu keluarlah keluhannya.
"Mengapa ketika ada keinginanku untuk menikah setelah ada orang yang menggerakkan hatiku, semua menjadi begini? Tak sanggup aku menanggung malu. Jika memang ini nasibku, aku terima kutukan itu."
Setelah meratap seperti itu tiba-tiba terjadi perubahan pada Gadis. Secara perlahan mulai dari kakinya mundul sisik-sisik buaya. Lalu bentuk tubuhnya pun mulai berubah menjadi bentuk buaya. Namun semua berwarna putih. Pada saat kepalanya akan berubah menjadi kepala buaya, Bujang Tuo datang. Bujang Tuo sempat melihat kepala Gadis yang belum berubah menjadi buaya, namun terlambat. Ketika ia datang seluruh tubuh gadis telah berubah menjadi buaya. Bujang tuo menyesali keterlambatannya. Ia menangis tersedu-sedu. Dalam kesedihan itu ia pun berkata, "Mengapa ini yang terjadi. Setelah datang keinginanku untuk menikah, tapi tidak juga terkabul. Buruk sekali nasibku. Jika ini suratanku, aku teruma kutukan itu!" Akhirnya Bujang Tuo pun berubah menjadi seekor buaya putih.
Mereka sama-sama telah berubah menjadi buaya putih di sebuah lubuk di Batang Senamat. Kepala mereka akan terlihat apabila air di lubuk itu surut.
Orang tua Bujang Tuo sebenarnya sudah lama menyinggung soal pernikahan kepadanya, namun ia tidak begitu menanggapinya. Bagi Bujang Tuo jodoh ada di tangan Sang Pencipta. Bujang Tuo adalah anak yang suka bekerja. Hal ini yang membuatnya tidak begitu terbebani dengan keinginan untuk menikah.
Untuk kesekian kalinya bertanyalah ibu Bujang Tuo kepadanya, "Kapan lagi kau nak menikah, Bujang, sudah rindu rasanya kami nak menimang cucu."
"Sudahlah, Mak, biar Tuhan yang berkehendak. Aku pun hendak, namun tak mungkin bila tiada rasa," jawab Bujang Tuo.
"Tapi, bagaimana dengan orang kampung. Rasanya sakit telinga Mak mendengar gunjingan mereka."
"Sabarlah, Mak. Aku pun begitu."
Bujang Tuo pamit kepada orang tuanya untuk berjalan-jalan menenangkan pikiran. Iba hati orang tuanya melihat nasib anak satu-satunya itu. Mereka tahu bahwa Bujang Tuo lebih tertekan dengan sindiran penduduk kampung, namun mereka tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat berdoa agar Bujang Tuo segera mendapatkan jodoh dan menikah.
Bujang Tuo pergi ke Batang Senamat. Dilepasnya pautan rakitnya dan ia mulai menyusuri Batang Senamat. Gundah juga hatinya memikirkan persoalan itu. Sebetulnya ia juga ingin untuk menikah, namun ia tidak mau menikah dengan gadis yang tidak disukainya. Selama ini Batang Senamat merupakan tempat pelarian keluh kesahnya. Hamparan hutan dan bukit di kiri kanan Batang Senamat seolah memberikan ketenangan kepadanya. Ia sering berlayar jauh untuk mengobati luka hatinya. Saat ini kata hatinya ingin pergi ke desa Senamat yang terletak di hilir Batang Senamat.
Dalam perjalanannya, Bujang Tuo sering bersenandung untuk menghibur diri. Ia begitu mengagumi kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam yang begitu indah, namun ia juga sering berkeluh kesah kepada Tuhan mengapa belum juga ada jodoh untuk dirinya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan menyanyi. Suara itu berasal dari bukit di sisi Batang Senamat. Namun suara itu tidak terdengar lagi ketika ia ingin menghentikan rakitnya. Ingin rasanya Bujang Tuo pergi ke sana, namun ia juga takut kalau itu hanya igauannya. Lama ia menunggu suara itu, namun tidak terdengar juga. Akhirnya Bujang Tuo melanjutkan perjalanannya. Namun ia masih memikirkan peristiwa tadi. Ia masih penasaran dengan suara itu.
Keesokan harinya ia kembali melewati tempat itu. Sesampai di sana ia kembali mendengar suara perempuan menyanyi, namun lebih mirip suara tangisan. Ketika Bujang Tuo akan menghentikan rakitnya suara itu kembali hilang. Bujang Tuo semakin penasaran. Namun ia masih belum berani untuk menaiki bukit tempat suara itu berasal. Ia takut kalau suara itu adalah miliki penunggu bukit itu. Bulu kuduknya berdiri dan ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sesampai di rumah Bujang Tuo tak bisa tidur. Ia masih penasaran dengan peristiwa di Batang Senamat itu. Ingin rasanya ia pergi ke bukit itu, namun ia takut kalau itu bukan suara manusia melainkan penghuni bukit itu. Tetapi selama perjalanannya ke desa Senamat, baru hari itu ia mendengar suara perempuan menyanyi. Bujang Tuo semakin penasaran. Setelah lama merenung, akhirnya ia berjanji bila besok masih mendengar suara itu, maka ia akan menaiki bukit itu.
Keesokan harinya ia kembali melewati bukit itu dan ia kembali mendengar suara perempuan menyanyi. Dengan cepat Bujang Tuo menepikan rakitnya dan menaiki bukit mencari sumber suara itu. Suara itu semakin jelas didengarnya. Perlahan Bujang Tuo mengintip dari balik daun-daun siapa gerangan yang sedang menyanyi itu. Ia melihat seorang perempuan sedang menangis tersedu-sedu duduk di atas batu. Ia yakin itu adalah manusia karena tak jauh dari sana ada kebun dan sebuah rumah.
Bujang Tuo mendekati perempuan itu dan mereka pun berkenalan. Akhirnya diketahuilah bahwa perempuan itu bernama Gadis. Ia tinggal dengan kedua orang tuanya. Hanya mereka yang tinggal di atas bukit itu. Usia Gadis sudah tidak muda lagi. Namun selama ini ia belum mau menikah karena masih asik dengan pekerjaan dan kebebasannya. Meskipun orang tuanya sudah berulang kali menanyakan perihal itu kepadanya. Sekarang setelah tidak muda lagi baru muncul keinginannya untuk menikah. itulah yang membuatnya bersedih sehingga sering menangis. Bujang Tuo merasa bahwa jalan hidup Gadis mirip dengan dirinya.
Semenjak saat itu, Bujang Tuo sering berkunjung ke sana. Ia merasa tertarik dengan Gadis, namun ia belum berani untuk mengungkapkannya. Ia masih ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Bujang Tuo juga tidak menceritakan peristiwa itu kepada orang lain termasuk orang tuanya. Ia tak ingin mereka tahu sebelum ia mendapat kepastian akan hubungan mereka. Hingga pada suatu saat Bujang Tuo pun mengutarakan perasaannya kepada Gadis. Akan tetapi, Gadis masih ragu dengan keseriusan Bujang Tuo. Ia takut kalau-kalau Bujang Tuo hanya bermain-main apalagi ia belum begitu mengenal asal-usul Bujang Tuo. Akhirnya Bujang Tuo memberikan kesempatan kepada Gadis untuk memikirkannya beberapa waktu.
Sampailah pada masa yang telah disepakati untuk bertemu. Mereka duduk di tepi lubuk. Bujang Tuo ingin sekali mendengar jawaban Gadis. Di dalam hati ia berdoa agar Gadis berjodoh dengannya.
"Sampaikanlah buah renungmu, Gadis. Ingin aku segera mendengarnya."
"Abang, bimbang aku memutuskannya. Masih ada ragu di hati tentang keseriusan Abang. Namun, jika benar abang bersungguh-sungguh, kelak datanglah sebulan lagi untuk melamarku. Itulah bukti keseriusan abang."
Tanpa pikir panjang Bujang Tuo langsung menyanggupi permintaan Gadis. Ia bahagia dengan jawaban yang diberikan Gadis.
"Baiklah, jika itu pintamu aku menyanggupinya," jawab Bujang Tuo.
"Tapi, aku ingin abang berikrar setia dalam sumpah bahwa abang bersungguh-sungguh. Selama ini baru abang lelaki yang mampu menggerakkan hatiku. Aku tidak ingin semua ini hanya angan belaka. Niat baik sering banyak cobaannya, Bang."
Bujang Tuo terdiam sesaat. Ia mencoba memahami permintaan Gadis. Namun Bujang Tuo bingung seperti apa sumpah yang dapat memberikan keyakinan pada Gadis. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Bujang Tuo bicara juga.
"Baiklah. Untuk kesungguhan kita aku bersumpah akan menjadi buaya di lubuk ini seandainya kita tidak jadi menikah." gadis pun menerima sumpah yang diikrarkan BujangTuo. Ia memilih menjadi buaya di lubuk itu daripada harus menanggung malu karena batal menikah.
Hari berganti. Sebulan telah berlalu semenjak Bujang Tuo mengikrarkan sumpah. Pagi itu Gadis telah berada di tepi lubuk tempat dulu mereka berjanji. Gadis ingin lekas bertemu dengan Bujang Tuo yang akan datang melamarnya sesuai janjinya. Lama ia duduk, namun belum tampak juga olehnya Bujang Tuo. Sampai selepas tengah hari Bujang Tuo masih juga belum datang. Gadis mulai resah kalau-kalau Bujang Tuo tidak akan datang. Jika itu terjadi ia tak sanggup menanggung malu kepada orang tuanya.
Hari sudah mulai sore, namun Bujang Tuo belum juga menampakkan diri. Gadis menangis. Hancur hatinya Bujang Tuo belum juga datang. Dalam kesedihan dan keputusasaan itu keluarlah keluhannya.
"Mengapa ketika ada keinginanku untuk menikah setelah ada orang yang menggerakkan hatiku, semua menjadi begini? Tak sanggup aku menanggung malu. Jika memang ini nasibku, aku terima kutukan itu."
Setelah meratap seperti itu tiba-tiba terjadi perubahan pada Gadis. Secara perlahan mulai dari kakinya mundul sisik-sisik buaya. Lalu bentuk tubuhnya pun mulai berubah menjadi bentuk buaya. Namun semua berwarna putih. Pada saat kepalanya akan berubah menjadi kepala buaya, Bujang Tuo datang. Bujang Tuo sempat melihat kepala Gadis yang belum berubah menjadi buaya, namun terlambat. Ketika ia datang seluruh tubuh gadis telah berubah menjadi buaya. Bujang tuo menyesali keterlambatannya. Ia menangis tersedu-sedu. Dalam kesedihan itu ia pun berkata, "Mengapa ini yang terjadi. Setelah datang keinginanku untuk menikah, tapi tidak juga terkabul. Buruk sekali nasibku. Jika ini suratanku, aku teruma kutukan itu!" Akhirnya Bujang Tuo pun berubah menjadi seekor buaya putih.
Mereka sama-sama telah berubah menjadi buaya putih di sebuah lubuk di Batang Senamat. Kepala mereka akan terlihat apabila air di lubuk itu surut.
Langganan:
Postingan (Atom)